自己紹介


初めまして、
私はアルアザール・インドネシア大学、文化学部、日本学科に 在学して おります、
アンギ・パラヘスタ です。
23歳です。
マジャレンカ から来ました。
趣味は 旅行 と 登山 と レコードを 集めることです。
これから お世話になります。
どうぞよろしくお願い致します。

Pengalihan Ke Konten Lain

Beberapa teman terlihat punya harga diri, dimana mereka bisa pergi dan datang di dua sisi yang berbeda, di dua masa yang rentan dengan nostalgia, tapi pergerakan mereka berhasil dengan akreditasi yang memuaskan. Saya? bisa! Tapi tidak untuk semua. Ada beberapa hal dimana mungkin saya bisa di anggap tak punya harga diri pada posisi tersebut. Bodoh? mungkin.

Selalu suka untuk tampak baik-baik saja di depan dia dan mereka yang saya sayangi, seolah lupa dengan masalah kalau besok asteroid menabrak bumi, atau algojo mars akan datang menghancurkan bumi. Cemen? bisa jadi.

Nostalgia tak bisa dihindarkan! Beberapa orang akan lemah dengan kenangannya, termasuk saya untuk beberapa hal. Untuk seseorang yang berada pada IQ yang tak terlalu buruk, sekelebat tertuju dalam kadang ke ingatan yang menyenangkan di masa lalu, yang jika sekarang hanya berupa dokumentasi beberapa percakapan yang entah mungkin bisa saja disebut sebagai sejarah untuk saya. Untuknya? Saya tak paham pasti.

Menjiwai dari awal itu bukan sesuatu yang berlebihan, mungkin akan tidak baik kalau melebihi kadarnya. Yap! Tampaknya saya memang sudah berlebihan di awal. Prosesnya terlalu istimewa, se-nonmainstream munculnya Slowdive di keramaian Maroon V. Pengaruhnya terlalu kuat! Perumapamaannya mungkin seperti sosok Andri LEMES yang bukan orang besar tapi bisa memberikan pengaruh kuat bagi mereka yang kenal rumahsakit. Menyesal? Tidak kok.
Sesuatu yang dibutuhkan tak berbanding lurus dengan yang diinginkan, tetapi akan selalu berkorelasi dengan waktu yang tepat. Elora bertutur “Tak ada lagi yang ku inginkan, Lebih dari yang kau berikan” itu hanyalah bentuk kepasrahan, tapi tetap tak bisa menutupi kalau saya adalah orang yang berkebutuhan. 

Mesin waktu memang tak pernah ada, setidaknya dalam kehidupan ke-2 berganti peran akan jadi resolusi yang cerdas dibanding menuntut kesempatan ke-2.

Tidak mungkin untuk pura-pura tak kenal lalu berkenalan lagi saat ini. Kesempatan ke-2 memang tak pernah ada, tapi bagaikan beberapa album lama yang di reissue akan menjadi deluxe edition. Yap! Saya ingin berjuang seperti dulu dalam kapasitas seperti itu, dalam kapasitas waktu dan jarak yang lebih rasional. 

Setelah Surat An-Nisa dibaca, aku tak yakin ingin menjalin ini. Astaghfirullaah, maaf sudah melebihi cinta-Mu. Tapi ini nikmat-Mu, hanya mencoba mensyukuri.

“Sangat memahami bagaimana Ibuku”. Bismillaah, akan selalu baik dan akan berusaha tampak baik dalam apapun dan sebagai apapun. Insyaa Allah bukan pura-pura baik karena hanya ada keininginan semata. Kalau bisa yak sebisa-bisa. “Pengaruhnya terlalu kuat” Saya ucap lagi.
Seorang teman berkata, “Itu tak salah, wajar!”

SNMPTN 201(0)5

Selamat kepada teman seangkatan yang lulus SNMPTN 2010 dan diterima di PTN pilihan masing-masing, tak lupa adek-adek 2015 yang juga demikian. Semoga bisa menjadi acuan lebih baik sebagai Mahasiswa/i yang bertanggung jawab, beradab dan bahagia. Amin.

Selepas shubuh. tak ada satu hasil pencarianpun yang memuat data pengumuman SNMPTN 2010. Waktu itu saya mengeceknya di sebuah warnet dibilangan Sumber. Sehingga ...
Saat teman seperjuangan malah tidak diterima, dan salah seorang teman malah salah menuliskan kode soal.

Hari ini beberapa jam yang lalu merupakan pengumuman hasil SNMPTN 2015. Semua pemberitaan di berbagai media termasuk jaringan sosial semarak mengekspose perihal ini. Kejadian yang rutin terjadi setiap tahunnya pada medio pertengahan tahun, termasuk di sekitaran bulan Juli 2010, tepatnya tanggal 17 saat itu, pengumuman SNMPTN 2010 di publis ke khalayak, dimana saya turut ikut serta dalam hajatan anak-anak SMA/SMK/MA ini.

Tentang obrolan singkat dengan salah satu guru SMA favorit di Cirebon sehari sebelum pendaftaran ditutup, yang berhasil membuat saya untuk sekedar daftar dan coba-coba.

“Yasudah, ayo tak anter foto di studio sebelah SMANDA. Kelas mah gampang saya kasih tugas aja. Sekalian bayar biaya pendaftaran ke Bank Mandiri dekat pelabuhan” tegasnya, ketika situasi saya yang datang ke SMA N 2 Cirebon tanpa membawa persyaratan yang lengkap. “Tadi biaya administrasi pendaftaran saya yang bayar, sekalian masuk ke ruang guru” kuang lebih seperti itu yang beliau katakan. Malu sebenarnya yang dirasa, tapipak! zzz.

Itu kali ke-2 saya masuk sekolah itu, dan karena jaringan internet kacau balau yang mengakibatkan gagalnya pendaftaran online yang dilakukan oleh beberapa guru itu membuat saya harus datang untuk ke-3 kali pada siang harinya. Beberapa orang termasuk saya yang sudah sedari pagi gegap gempita cemas menunggu sedari pagi, akhirnya berpulang dahulu. Siangnya? Oh tidak, masih tetap tak bisa. Tapipak! pendaftaran diperpanjang 3 hari. Kejadian ini ada pada hari terakhir pendaftaran, catat!

“Terima kasih Mang, saya diterima di Unsoed lewat SNMPTN”, beliau senang akan itu. Tapi ketika beliau tahu kalau saya tak ambi kursi itu, beberapa tahun setelah itu setiap bertemu dengan ibu saya, selalu menyayangkan keputusan saya yang tak ambil kursi itu dengan nada yang agak sedikit beratmosferkan penyesalan. 

Apa yang diinginkan tidak akan selalu berbanding lurus dengan kebutuhan. Apa yang diimpikan terkadang akan selalu bertolak belakang dengan apa yang harus dilakukan.
Adek-adek 2015, semoga kita seangkatan yak tahun ini! Semoga beruntung dan berbahagia atas pilihan kita. Amin.

Drama. Kata Kang Otz : “Semua orang yang bikin apa-apa dari pengalamannya itu orang yang cemen” Tapipak! zzz.

Bismillaah

Guruh Gipsy : Kesepakatan Dalam Kepekatan pt.I

Hari ini komposer kawakan Indonesia yang juga Ayah dari penyanyi Gita Gutawa, Erwin Gutawa, menggelar konser di Plenary Hall JCC dalam rangka mengapresiasi karya-karya salah satu seniman besar Indonesia, Guruh Soekarno Putra, yang notabene juga adalah Adik dari Megawati Soekarno Putri.

Konser yang melibatkan artis-artis era sekarang seperti Tulus, Raisha, Nowela, Superman Is Dead dll ini akan membawakan karya Guruh dari masa ke masa, seperti Galih dan Ratna, Indonesia Maharddhika, Zamrud Khatulistiwa dll. Berbicara tentang karya Guruh ini, tentu saja tak bisa kita lepaskan dengan salah satu project karyanya yang monumental sekaligus fenomenal bersama band Gipsy, yang dimana project tersebut dinamai dengan Guruh Gipsy.


Gipsy yang digawangi oleh Abadi Soesman (synthesizers), Chrisye(bass,vokal), Keenan Nasution (drums,vokal), Roni Harahap (piano/keyboard,komposer ), Oding Nasution (gitar) ini bekerja sama dengan Guruh untuk merekam sebuah album yang menunjukan keprihatinan Guruh terhadap kondisi bangsa pada saat itu yang cenderung anak mudanya terlalu berkiblat ke barat dalam menciptakan hasil karya. Kegelisahan Guruh tersebut memicunya untuk menghasilkan sebuah project musik yang mengawinkan musik tradisional Indonesia (Bali) dengan musik barat. 



Project ini dirilis dalam bentuk kaset yang dilengkapi booklet setebal 32 halaman pada tahun 1976, dan memakan proses dalam penggarapannyaantara tahun 1975 ~1976. Project ini didanai oleh beberapa pengusaha, salah satunya alm.Taufiek Kiemas, yang juga kakak ipar Guruh. Konon album ini hanya dicetak 5000 copy, dan diedarkan  secara tak lazim, misalnya dipajang di apotek dan tempat lainnya. Dari sinilah bisa dianggap sebagai cikal bakal gerakan indie, yang dimana merekam, memproduksi dan memasarkan sendiri hasil karyanya tanpa melalui label. Album yang beraroma Progressive-Rock ini tidak sukses dipasaran, musik yang disuguhkan album ini dianggap terlalu rumit, ditambah harga yang dipatok untuk menebus album ini terbilang terlalu mahal. Pada umumnya kaset-kaset yang dijual pada saat itu sekitar Rp. 700 ~ Rp. 800, sedangkan album ini dijual dengan Rp. 1.750. Tapi justru yang harus diteladani dari penggarapan album ini adalah idealisme seorang Guruh yang ingin berkarya menjunjung tinggi budaya Indonesia tanpa memperdulikan nilai komersialisme.

Tak disangka beberapa dekade setelahnya, album ini malah diperbincangkan di skema musik Progressive-Rock dunia, dan menjadi incaran para kolektor dunia. Ironisnya pada tahun 2006, salah satu label rekaman Jerman, Shadork Record membajak album ini dan merilisnya terbatas dalam bentuk vinyl. Bajakannya saja mampu mencapai harga kisaran Rp. 1 jutaan. Album yang menyertakan tagline "Kesepakatan Dalam Kepekatan" di cover depannya ini sempat termuat di salah satu film garapan Mira Lesmana, Garasai. Mungkin dari film itulah popularitas album ini kembali mencuat. Saya sendiri mendapatkan album ini dengan harga yang cukup tinggi untuk sebuah kaset. Saya pernah bertanya harga tentang album ini jikalau masih dilengkapi bookletnya, konon bisa mencapai Rp. 1 juta ~ Rp. 3 juta.


             Album ini berisikan 6 lagu, yaitu :
  1. Indonesia Maharddhika
  2. Chopin Larung
  3. Barong Gundah
  4. Geger Gelgel
  5. Janger 1987 Saka
  6. Smaradhana
Untuk lebih detailnya tentang album ini, saya masih mencari riset di artikel-artikel yang ada di internet, termasuk catatan di blog-nya Denny Sakrie yang akan saya tuangkan dengan bahasa saya sendiri. Bagi yang menonton konser "Salute To Guruh Soekarno Putra" selamat mengapresiasi.

Morfem : Sneakerfuzz EP 3X3

Sneakerfuzz, sebuah rilisan dari band berbahaya Jakarta saat ini dalam bentuk mini album berisikan 6 lagu. Morfem membayar ke-agak kecewaan saya terhadap album ke-2, Hey, Makan Tuh Gitar!. EP yang dibiayai oleh salah satu brand apparel sepatu terkemuka ini membangkitkan suasana seperti album pertama mereka, Indonesia.

Morfem  menyisihkan Superglad dan satu band lagi yang saya lupa, waktu itu kalau tak salah saya juga ikut memvoting, dan jelas pilihan saya adalah Morfem. Jimi Mulhtazam selalu menarik perhatian saya dalam hal penulisan lirik. Seperti halnya di mini album ini, dia menulis lirik yang segar dengan tema-tema baru.

Kubikal Rock, track pembuka yang berbahaya. Yanu menyerang dengan permainan bass-nya yang sedikit berdistorsi, aroma punk-hardcore kental menyeruak dari lagu ini. Sayangya lagu yang menghentak ini hanya berdurasi pendek. Track selanjutnya adalah Planet Berbeda, sedikit rehat dari hentakan track pertama, kita seolah diajak untuk sing-along sejanak. Dengan tema yang segar, Jimi menunjukan kebolehannya dalam menulis lirik. "Aku memilih Bob Dylan, sedang kau Mumford & Son" dan "Kau pembaca karya Hirata, sedang ku penggila Teguh Esha" mengindikasikan wawasan Jimi yang luas dalam lirik lagu tersebut. Mungkin dengan lagu ini Jimi ingin menyampaikan pentingnya saling pengertian di tengah-tengah perbedaan musik dan bacaan buku dalam suatu hubungan. Track ke-3 kembali dihentak dengan Tak Ada Ketakutan, dengan gigihnya Pandu nge-fuzz gila di lagu ini, menjadikannya salah satu gitaris favorit saya saat ini. Cuma kurang dari mendapat klimaks di akhir lagu ini, perihal sama dengan Kubikal Rock yang berdurasi singkat.

Kita kembali di ajak bersantai memasuki track-4, Tiba-tiba Terjadi, Morfem memang cukup bisa membuat lagu yang memungkinkan para pendengarnya bernyanyi riang dengan lagu-lagu tipe seperti ini tetapi tetap masih berasa punk-nya. Track ke-5, jangan berada di Bundaran jam 3 pagi, setidaknya itulah yang digagas Morfem di track ini. Saya tak tahu Bundaran mana, entah Senayan atau HI. Hardcore menusuk tajam dari track ini, rasanya lagu ini yang lebih tepat untuk di buat dengan durasi pendek. Terakhir ada Rayakan Pemenang yang dirilis sebagai single pertama dari EP ini. Lagu yang dirilis lebih dahulu di akun Souncloud mereka yang pada saat itu bertepatan tak jauh dari pengumuman Pemilu Presiden RI yang dimenangkan Jokowi. Entah orientasi lagu ini menuju ke arah sana atau tidak, yang jelas lagu ini dalah lagu baru yang pantas dibawakan Morfem untuk porsi encore dari setiap show-nya nanti. Bagian lirik akhir lagu yang anthemic, sangat pas dinyanyikan bersama bersama para crowd sambil tangan mengepal ke atas langit.

Walaupun album ini didanai oleh Converse, Morfem tetap menuntaskan tugas mereka dengan idealis. Porsi 3 lagu riang dan 3 lagu yang cukup keras mampu mengembalikan esensi saya ketika pertama kali mendengar Indonesia.  Kami menungu dirimu untuk rayakan.


"Ribuan Hipster menggoda, hasrta digital bergelora, tapi tetap saja analog yang juara".

SORE : Los Skut Leboys EP Release Party


Ketika rencana pulang ke rumah gagal berganti menjadi suatu berkah, yaitu bisa ada di sebuah konser yang dikemas dalam rangka pemanasan untuk album penuh ke-3 mereka, Los Skut Leboys, yang dicanangkan akan beredar sekitar akhir Januari. Sebuah EP beserta majalah Rolling Stone edisi November 2014 disiapkan sebagai tiket bagi mereka yang hendak datang di konser ini, EP berbentuk kaset ini dicetak terbatas hanya untuk 500 pemegang tiket pertama.

EP ini berisi 4 lagu sebagai pemanasan mereka menuju album selanjutnya. Ada track 8 sebagai pembuka di EP ini, lagu yang pada hari tersebut juga dirilis sebagai single ke-2 di iTunes  ditulis oleh Billy Saleh, partner Ade Paloh di band Marsh Kids, sementara lirik lagu tersebut ditulis Ade. Dilanjutkan dengan lagu yang berjudul Belajar Untuk Riang, sebuah judul yang menarik dari Bemby sebagai pencipta lagu yang sekaligus didaulat membawakan lagu ini. Di Side B dibuka dengan Para Plesirs, sebuah lagu yang nantinya bakal jadi anthem baru buat saya saat travelling, satu-satunya lagu yang diciptakan oleh Echa di album ini. Single pertama mereka yang dirilis 14 September lalu, menjadi lagu terakhir di EP ini, yap! There Goes. Selain lagu yang saya sebut terakhir, semua lagu di EP tersebut belum saya dengarkan karena perangkat walkman saya sedang masa service di tukang servicenya, sementara siangnya saya gagal mendownload 8 di iTunes perihal apple id saya yang error.

Selepas  Maghrib saya masuk venue yang sore itu agak dihiasi gerimis kecil. Sempat terlihat Awan, Bemby, Ade dan Executive Produser mereka, Ronald Suraprdja berseliweran mondar manir. Sembari menunggu mulainya acara, sempat bercakap dengan orang yang bertemu di Musholla pas Maghrib, juga dengan salah satu awak media dari majalah Trax.

Sekitar jam 8, acara di mulai dengan penampilan band instrumental yang entah namanya apa, mereka terlihat seperti The Ventures atau The Shadows. Yang saya tahu lagu terakhir yang mereka bawakan adalah lagu Panon Hideung yang dikemas apik dengan trio-gitar. Di sela-sela penampilan mereka, saya melihat Sigit, vokalis Tigapagi yang menjadi salah satu additional-player Sore mondar mandir, karena dia orang sunda saya tak sungkan mendekatinya untuk melegalisir album Roekmana's Repertoire, sekalian dengan album Marsh Kids yang saya bawa, foto barengpun wajib ketika sesama orang sunda bertemu. Setelah itu, di samping stage terlihat sosok perempuan kalem, anggun nan cantik, seketika saya bertanya kepada teman saya yang saat sore itu baru kenal, "Sssst! itu Danilla kan?" tanya saya, ketika teman saya mengiyakan, kita bertiga segera dengan tanpa ragu menghampirinya. Sebuah hal yang lumrah ketika si pendengar ingin terlibat cakap langsung dengan Sang Biduan, lagi-lagi berfoto barengpun salah satu ritual yang tak boleh dilewatkan. Danilla, Sang Biduan yang murah senyum dan ramah, Danilla memang ciamik.

Acara di lanjutkan dengan penampilan band folk-rock, Bangkutaman yang memang sudah dijadwalkan tampil sebelum Sore sebagai headliner. Saya tak terlalu tahu tentang band ini, hanya vokalis mereka Wahyu Acum, founder dari blog #gilavinyl-lah yang saya tahu. Seketika Acum naik ke stage dengan  melempar bunga ke arah crowd, mereka membawakan beberapa lagu yang saya tak tahu. Sebuah kejutan datang di beberapa lagu terakhir, mereka mengundang Danilla untuk bernyanyi bersama menyanyikan lagu Neil Young, Harvest Moon. Perhatian saya tetap tertuju pada Danilla yang sembari bernyanyi memainkan pianika di lagu tersebut, Danilla memang ciamik.

Akhirnya sekitar jam 9, terlihat kesibukan para crew Sore menyiapkan set peralatan panggung. Konser kali ini nampaknya tak ber-MC, hanya saja Ronald naik ke atas panggung untuk sekedar memberi sambutan tentang album terbaru Sore, dia bertutur kalau EP yang dibagikan sebagai tiket tersebut merupakan produksi manual dengan semangat D.I.Y, sebuah nilai lebih dari sebuah kaset yang bukan cuma sekedar bingkisan konser yang terbatas, tapi hasil karya seni yang dibuat dengan cara tak biasa.

Akhirnya satu persatu personel Sore naik ke panggung, termasuk salah satu additional-player mereka, Adink yang saya sangka itu adalah Mondo, salah satu pendiri Sore yang telah keluar. No Fruits For Today di gagas sebagai track pembuka, anthemic! Lagu yang didaulat sebagai salah satu lagu terbaik Indonesia sepanjang masa ini memulai interaksi Sore dengan para pendengar Sore (re: Sorealist) yang serentak bernyanyi bersama di bagian reffrain "I love You When You Love Me, We'll Gonna Make A Big Family", lirik reffrain yang tak pernah bosan dan memang selalu pas untuk di suarakan bersama saat konser. Lagu yang dipersembahkan kepada sahabat mereka, Ramondo Gascaro. Seperti isu-isu tentang konser ini yang mereka bahas di akun socmed mereka, bahwasannya mereka akan membawakan lagu-lagu yang jarang mereka mainkan sebagai penyegaran terhadap Centralismo dan Ports Of Lima itu terbukti dengan Bogor Biru di lagu ke-2, dan beberpa konsep Sore yang akan memasukan alat musik tiup dan gesekpun memang nyata adanya, Musim Ujan sebagai lagu ke-3 di hiasi dengan permainan flute oleh seorang yang tak berambut, entah siapa. Lagu yang berada di album Sorealist ini cukup membuat hanyut para penonton untuk bernyanyi bersama.

8, lagu baru mereka untuk pertama kalinya dibawakan LIVE, penonton semua terlihat khusyuk mendengarkan lagu yang masih tak akrab ditelinga. Sekilas lagu ini memang asyik, tapi ah sudahlah saya tak mau berasumsi jauh sebelum mendengarkan seksama tentang lagu ini. Formasi  di lagu ke-6 berubah, set akustik untuk lagu Silly Little Thing yang dibawakan Ade dan Adink di gitar memaksa personel lainnya turun panggung sejenak. Lagu yang dalam format aslinya berduet dengan penyanyi Malaysia, Atillia Haron ini apik dibawakan dalam format akustik, terlebih permainan gitar Adink yang asyik kembali memaksa penonton untuk tak ragu ikut bernyanyi bersama di lagu ini. Adink memang terlihat seperti orang yang kalau kata orang sunda "Garang Gusuh" pada malam itu.  Lagi-lagi masih dalam suasana akustik, kali ini Sigit yang di daulat untuk tampil bersama Ade, sejenak Ade mengambil satu batang rokok dan menyumbunya sambil bernyanyi untuk lagu ini. Salah satu lagu paling favorit saya dari band ini, lagu yang selalu membawa saya seolah bergeming tak bersua sebelum tidur saat masih di seberang sana, lagu yang bisa menghanyutkan saya ditengah persoalan pelik, Apatis Ria sukses membius penonton dalam kecekaman.

Nyatanya Awan memang yang lebih banyak berbicara di malam itu, celetukan-celetukannya untuk menyambung dari satu lagu ke lagu lainnya dengan Ade mampu membuat para penonton tertawa, sebuah kewajaran karena mereka sudah berteman dari kecil. Selanjutnya kembali salah satu lagu favorit saya yang bernuansa religi dari album Centralismo, Keangkuhanku dibawakan eksklusif oleh Echa dengan Gibson SG-nya. Untuk kali pertama mungkin lagu ini dibawakan, Echa dengan suara khasnya memang sangat pas untuk lagu ini. Semula saya kira Aku yang dibawakan, ternyata saya salah.  Masih Echa yang berdendang, lagu ciptaanya di album terbaru nanti  dbawakan, Para Plesirs. Lagu yang cukup riang ini, mungkin bakal jadi lagu soundtrack saya untuk travelling, yang menarik adalah permainan gitar Echa di lagu ini, sungguh menyiratkan sebuah rasa penasaran. Sekilas tampak bakal menarik permainan gitaris flamboyan ini di beberapa lagu baru Sore, termasuk lagu ciptaannya ini. Seperti biasa, penonton masih asing dengan lagu baru mereka. Masih dari Centarlsimo, kali ini ada Ambang, tepuk tangan riuh datang dari tangan para penonton yang apresiatif disuguhkan lagu-lagu yang jarang Sore bawakan. Lagu ke-11 adalah Fiksinesia, lagu baru yang katanya bercerita tentang kota Bandung. Konon di lagu ini Ajie Gergaji dari Themilo ikut menyumbangkan permainan gitarnya. Sepertinya lagu ini cukup suram.

Saatnya Bemby unjuk gigi, dari pojok belakang set-drum-nya, dia mulai dengan lagu riang yang ciamik, Etalase, dibawakan berduet dengan Awan di vokal. Lagu yang selalu membawa keriangan untuk saya, karena liriknya yang saya suka. Lagu yang siapapun orang yang mendengarnya tak akan menolak buat ikut berdendang, Etalase adalah nafas Sore dalam ramuan Jazz riang, catchy!. Masih Bemby, sebelum dia membawakan lagu Belajar Untuk Riang (BLUR), dia menuturkan dibalik kisah inspiratif proses penciptaan lagu tersebut. Sebuah peristiwa ketika seorang anak mengemis di jalanan, seketika turun hujan yang tak membuat sang anak tersebut pergi untuk berteduh, melainkan menadahkan mukanya yang dia biarkan kehujanan lalu tetap tersenyum. Posisipun berubah, Bemby yang selalu ada di belakang, maju ke depan dengan menenteng gitar akustik, biola dan flute mewarnai Bemby menyanyikan lagu ini. Saya seolah disuguhkan nuansa orkestra di lagu ini. Selanjutnya 400 Elegi dibawakan Bemby dengan format akustik, lagu yang ada di Porst Of Lima ini memang lebih pas dibawakan akustik di tengah-tengah konser tersebut. Saya lupa, apakah Ade juga ikut dalam lagu ini, yang jelas 3 lagu Bemby bernyanyi tak mengubah antusias penonton untuk tetap ikut bernyanyi bersama. 3 lagu yang membuktikan kalau Bemby tak hanya berskill drum, sebagai pencipta sekaligus penyanyi dia juga mampu lakukan.

There Goes, sebagai lagu ke-15 adalah satu-satunya alasan para penonton ikut berpartisipasi diantara lagu-lagu baru yang mereka bawakan malam itu. Lagu yang ringan, tak salah menempatkan lagu ini single pertama yang dibuat sebagai gambaran untuk lagu-lagu Sore berikutnya.  Entah di lagu ini apa lagu beikutnya Come By Sanjurou, dimana di penghujung lagu Bemby sedikit memamerkan skill drumnya. Set tata lampu panggung sekektika gelap, seolah menungu datangnya cahaya kearifan dari ujung belakang sana. Come By Sanjurou, lagu yang berasal dari Ports Of Lima yang sama sekali saya tak menyangka akan mereka bawakan. Acara masih berlanjut, waktu semakin larut. Wacana mereka yang akan membawakn 17 lagu kini tersisa 1 lagu saja, semua orang sudah bisa menebak lagu terakhir tersebut. Tapi lagu ke-17 yang mungkin akan mengakhiri konser mereka saat itu tak sesuai pikiran saya, sebuah lagu yang berasal dari paruh 60-an, mematahkan semua anggapan penonton kalau konser tersebut tersisa 1 lagu lagi. Tidak! Lagu tersebut tidak bakalan dijadikan closing konser mereka, jadi masih ada kemungkinan setelah lagu ini mereka pasti akan membawakan beberapa lagu lagi. Pergi Tanpa Pesan, sebuah lagu mendayu yang bisa membuat orang terperangah, ini kali ke-2 saya melihat mereka, saya tak mau fokus saya terganggu hanya untuk merekam mereka membawakan lagu ini, Inilah lagu yang menggambarkan Sore seuruhnya, Indonesiana Rock Revival. Ade begitu sangat syahdu memainkan trumpetnya di lagu ini, sejuk. Anggapan konser akan berakhirpun semakin tak terbenarkan, ketika mereka mengundang Aghi Narottama untuk berduet di salah satu lagu Sore era Ports Of Lima. Lagu yang sudah bisa saya tebak, Karolina. Menurut saya lagu ini seperti mempunyai daya magis, khusunya di permainan gitarnya, perpindahan sound di awal dan bagian reffrain itulah yang saya suka. FYI, Aghi Narottama adalah salah satu produser Sore ketika album Sorealist, dia adalah orang yang berprofesi sebagai film scorring, dia juga eks-LAIN.

Akhirnya konser akan segera berakhir, kali ini anggapan semua orang tak bisa dipatahkan. Pasti lagu ini yang akan menutup pemanasan mereka malam itu. Sssst! sebagai persembahan terakhir akhirnya digeber, lagu yang berlirik Gila! lagu tang khusus dibuat agar orang bisa berdansa-dansa kecil malu-malu. Lagu yang mengembalikan kepercayaan mereka untuk akhirnya merasa pantas merilis Los Skut Leboys, lagu yang senagai jembatan Sore dari Ports Of Lima ke album berikutnya, lagu asyik Sore tanpa Mondo, jelas di lagu ini ada sediki taste Sore yang hilang, tapi Sssst! meyakinkan saya, walau tana Mondo, Sore masih tetap bisa membuat lagu bagus dengan suasana baru. Ketika Sssst! selesai digagas, permintaan encore dari penonton menyeruak. Sore menyanggupinya, mereka akan membawakan lagu yang dipinta penonton. Semua penonton ikut berteriak, ada yang ingin Funk The Hole, Setengah Lima, dll. Saya sendiri berharap Echa membawakan Aku sebagai encore. Nyataya Awan menegaskan Setengah Lima -lah yang akan jadi persembahan terakhir. Merinding, suasana yang saya dapat ketika mendengar lagu ini, khususnya di bagian tengah lagu, yang teknik vokalnya berubah menjadi lebih datar. Apapun itu semua terhanyut dalam akhir 2 jam yang mereka dambakan, konser berakhir dengan applause dari penonton. Saya puas menonton konser tersebut, apalagi berada di shaf paling depan.

Tak menyegerakan pulang, memburu legalisirpun tak disiakan ketika para pengisi acara turun dari panggung. Centralismo, Ports Of Lima, Sorealist dan EP mereka berhasil di legalisir komplit semua personel kecuali Awan yang tak terlihat. Sementara Bemby kaget tek percaya, ketika saya menyodorkan 2 kaset LAIN kepadanya, dimana Bemby saja tidak mempunyai album band dulunya tersebut. Ini beberapa foto ketika konser.

Los Skut Leboys EP Release Party (Photo)





















Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu